Pengikut

Jumat, 29 Maret 2013

3 Hal yang Tidak Boleh Terkena Najis saat Beribadah

Tiga Hal yang Tidak Boleh Terkena Najis

Suci adalah syarat mutlaq dalam
beribadah. Karena ibadah merupakan media komunikasi seorang hamba dengan
Allah swt yang Maha Suci.

Bukankah Yang Suci senang sekali dengan yang suci juga?
Oleh karena itu Rasulullah saw
memeritnahkan untuk segera
membersihkan tiga hal di bawah ini dari najis.

Pertama adalah badan. Badan atau jasad seorang tidak boleh berlama-lama terkena
najis. Karena hal ini bisa merusak
kesehatan sekaligus mengundang
penyakit. Dan yang lebih penting lagi, najis
di badan akan menghalangi seseorang
mendekati Yang Maha Suci. Begitulah
anjuran Rasulullah saw untuk menghindari
najis dan menghilangkannya secapat
mungkin dari badan.
ﺃﻧﻪ ﺃﻣﺮ ﺑﻐﺴﻞ ﺍﻟﺬﻯ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻥ ﻭﻏﺴﻞ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺎﺕ
ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺨﺮﺟﻴﻦ
Sesungguhnya Rasulullah saw. memerintah
untuk membersihkan badan dan najis yang
keluar dari dua jalan itu (qubul dan dubur)
Kedua adalah pakaian. Pakaian menjadi
hal terpenting setelah badan untuk
dihindarkan dari najis. Mengingat pakaian
yang najis tidak dapat digunakan untuk
beribadah dan juga akan mengurangi aura
pemakainya. Bayangkankan saja jika jas
atau kemeja kita terkena kotoran cicak,
bukankah baunya juga tak sedap?
Pentingnya kebersihan pakaian ini
disampaikan hingga Allah swt
memerintahkan langsung kepada
Rasulullah saw dalam wahyu yang
kedua ﻭﺛﻴﺎﺑﻚ ﻓﻄﻬﺮ “dan bersihkanlah
pakaianmu”. Wajar saja karena sebagai
agama yang baru saat itu, Islam harus
hadir dengan karakter baru yang
membedakan diri dari tradisi bangsa Arab
selama itu. hal ini dapat diartikan bahwa
Islam juga memperhatikan penampilan
sebagai sesuatu modal ber’ muasyarah
dengan komunitas lain.
Begitu pula yang diajarkan Rasulullah saw
kepada umatnya. Dalam sebuah hadits
dengan jelas Rasulullah memerintahkan
Siti Aisyah untuk mengerok /
membersihkan kainnya dari darah haidh
dan juga menyiram pakaian yang terkena
kencing bayi.
Hal ketiga yang harus segera dibersihkan
ketika terkena najis adalah tempat shalat
khususnya Masjid. Masjid secara bahasa
merupakan tempat bersujud. Ruang mulia
pertemuan hamba dengan Tuhannya. Oleh
karena itu masjid harus senantiasa suci.
Apalagi jika menghitung bahwa masjid
adalah simbol kebesaran umat Islam,
maka masjid harus selalu tampil suci dan
meyakinkan.
Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa
Rasulullah saw pernah memerintahkan
sahabat untuk segera menyiram masjid
sudah terlanjur terkena kencing orang
badui. Dengan kata lain masjid tidak boleh
terkesan jorok bahkan boleh ada bau
pesing di sekitar masjid.
Demikianlah tiga hal yang harus dijaga
dari najis sebagaimana diutarakan oleh
Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid.

Sumber : nu

Selasa, 19 Februari 2013

Ternyata Para Imam Madzhab Bertasawuf Lho..

Ternyata Para Imam Madzhab
Bertasawuf...
Seringkali kita mendengar ceramah atau tulisan yang tersebar di buku atau internet,
bahwa ilmu tasawuf itu tidak ada dalam Islam.

Sesuatu yang tidak ada dalam Islam artinya bid’ah, karena termasuk sesuatu yang diada-
adakan. Dan pelaku bid’ah akan masuk neraka.
Maka tasawuf itu adalah sesat dan menyesatkan.

Ternyataklaim-klaim seperti itu
tidak berdasar. Tidak ada yang baru sebenarnya dalam prinsip-prinsip yang dipelajari dalam tasawuf.
Karena sesungguhnya, di zaman nabi pun tasawuf , fiqih, tauhid diajarkan dan dipraktekkan secara serempak. Klasifikasi ilmu-ilmu Islam tersebut barulah ada setelah jauhnabi
Muhammad wafat.

Tasawuf lebih memfokuskan praktek Islam secara batiniah yaitu bagaimana mendekatkan
diri kepada Allah secara ikhlas tanpa pretensi apapun kecuali kecintaan kepada sang
Pencipta. Dan juga bagaimana kita bisa merdeka dari penyakit-penyak it hati seperti
sombong, iri, dengki, kikir, dan ghibah. Karena
semua penyakit itu akan berpotensi
menjadipenghalang atau hijab antara manusia
dengan Allah Swt. Sedangkan ilmu Fiqih
menfokuskan diri bagaimana Islamditerapkan ­
secaralahiriah. Bisa dikatakan semacam juklak
atau petunjuk pelaksanaan bagaimana umat
Islam menjalankan sholat, puasa, zakat, haji,
mengubur jenasah, menikah, menghitung waris
dan lain-lain. Jadi Fiqih dan tasawuf pada
hakekatnya adalah ilmu lahir dan ilmu batin.
Keduanya saling melengkapi, dan tidak bisa
dipisahkan. Makanya tidak heran jika para
ulama madzabpun semuanya bertarekat dan
mempunyai guru tasawuf (murshid ) yang
jelas silsilahnya.
IMAM ABU HANIFAH ( HANAFI ) (85 H -150 H)
(Nu’man bin Tsabit - Ulama besar pendiri
mazhab Hanafi)
Beliau adalah murid dari Ahli Silsilah Tarekat
Naqsyabandi yaitu Imam Jafar as Shadiq ra.
Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi
didalam kitab Durr al Mantsur,
meriwayatkanbahwa Imam Abu Hanifah
berkata, “Jika tidak karena dua tahun, aku
telah celaka. Karena dua tahun saya bersama
Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya
mendapatkan ilmu spiritual yang membuat
saya lebih mengetahui jalan yang benar”.
IMAM MALIKI
(Malik bin Anas - Ulama besar pendiri
mazhabMaliki) juga murid Imam Jafar as
Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya
yang mendukung terhadap ilmu tasawuf
sebagai berikut :
“Man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad
tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam
yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa
wa taraqahafaqad tahaqaq”.
Yang artinya : “Barangsiapa mempelajari/ ­
mengamalkan tasawuftanpa fiqih maka dia
telah zindik, dan barangsiapa mempelajari
fiqih tanpa tasawuf dia tersesat,dan siapa
yangmempelari tasawuf dengan disertai fiqih
dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam
Islam.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih,
juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam
Abul Hasan).
IMAM SYAFI’I (Muhammad bin Idris, 150-205
H)
Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i berkata,
“Saya berkumpul bersama orang-orang sufi
dan menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. Mereka mengajariku bagaimana
memperlakukan orang lain dengan kasih
sayang dan kelembutan hati
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan
tasawuf.”
(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid
al Albas, Imam ‘Ajluni, juz 1, hal. 341)
IMAM AHMAD BIN HANBAL (164-241 H)
Ulama besar pendiri mazhab Hanbali
berkata,“Anakku , kamu harus duduk bersama
orang-orang sufi, karena mereka adalah mata
air ilmu danmereka selalu mengingat Allah
dalam hati mereka. Mereka adalah orang-
orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual
yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang
lebihbaik dari mereka” (Ghizaal Albab, juz 1,
hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh
Amin al Kurdi)
Demikian sedikit tulisan tentang catatan bahwa
para ulama panutan kitapun belajar tasawuf
danmenekankan betapa pentingnyabelaj ar
tasawuf sehingga ibadah yang dijalankan oleh
umat Islam tidak kering dari ruh yang
menghidupkan ibadah. Sehingga pada
prakteknya ibadah tidakberhenti pada gerakan
badan, tapi berlanjut dengan gerak batin
yangselalu ingat kepada AllahSwt kapan dan di
mana pun.
Cukuplah Ini Menjadi Sanggahan Bagi
Sekelompok Orang yg Menyesatkan Ajaran
Tasawuf...
Silahkan Sebarkan Tulisan Ini Demi
Mengungkapkan Kebenaran dan Membantah
Fitnah yg Telah Tersebar dan Untuk Membantu
Page Ini Berkembang...
Salam Aswaja... Nyeruput Yuuk... ^_^

Jumat, 28 Desember 2012

Belajar Haruslah Mempunyai Guru

Oleh : Hidup Itu Butuh ILMU

Habib Munzir Al Musawa berkata:
“Orang yang berguru tidak
kepada guru tapi kepada buku
saja maka ia tidak akan menemui
kesalahannya karena buku tidak
bisa menegur tapi kalau guru bisa
menegur jika ia salah atau jika ia
tak faham ia bisa bertanya, tapi
kalau buku jika ia tak faham ia
hanya terikat dengan pemahaman
dirinya (dengan akal pikirannya
sendiri), maka oleh sebab itu jadi
tidak boleh baca dari buku,
tentunya boleh baca buku apa
saja boleh, namun kita harus
mempunyai satu guru yang kita
bisa tanya jika kita mendapatkan
masalah”


Rabu, 26 Desember 2012

Jauhilah Perayaan Malam Tahun Baru,

Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata :
"Saudara-saudaraku jauhilah perayaan malam tahun baru, malam 1 Januari adalah malam paling banyak maksiat ummat Muhammad SAW di muka bumi dalam setahun
penuh, malam itu boleh kita namakan : “Malam kegelapan dosa dimuka bumi”.

Dimana panggung-panggung kemaksiatan ditegakkan, lalu ribuan manusia berjingkrak ria dan mabuk-mabukan berjoget diatas Bumi Allah disaksikan oleh seluruh bintang dilangit,
disaksikan oleh jutaan sel tubuhnya yang ikut terlibat dalam gelimang dosa, dan disaksikan
oleh Maha Raja Yang Maha Melihat, Yang Maha Menghamparkan Bumi untuk bersujud kepada Nya, merayakan hari ummat yang telah
memfitnah Nya mempunyai putra, barangkali arwah ayah ibu meraka menangis menjerit jerit karena disiksa di alam kubur sebab perbuatan mereka, sedang anak-anaknya berjingkrak joget diatas bumi Allah SWT dalam kemaksiatan.

Saudara-saudarku bangkitlah… saudara- saudaraku hindarkanlah dirimu, anak-anakmu, keluargamu, tetanggamu, teman-temanmu,
dari merayakan malam itu, hindarkan
terompet-terompet tahun baru dari anak- anakmu, terompet itu ditiup oleh bibir-bibir muslimin, sebagai tanda kemenangan bagi
kaum kuffar, menandakan anak-anak muslimin telah dibawah injakan kaki orang kuffar karena mereka turut memeriahkan perayaan orang-
orang yang bukan agamanya, betapa gelapnya pemahaman ayah ibunya, mereka mengeluarkan uangnya demi agar anaknya turut dalam kelompok kuffar, mereka membayar demi tarbiyah (didikan) kekufuran
untuk anaknya….

ASTAGFIRULLAHAL ADHIIM…
ASTAGFIRULLAHAL ADHIIM…"