Pengikut

Kamis, 30 Agustus 2012

Biographi Singkat Imam Nawawi

Biografi Imam Nawawi

Imam nawawi lahir di desa Nawa di daerah khauran sebelah selatan kota Damsyik pada bulan Muharram 131 H. Beliau hidup di kelurga yang sangat menghargai ilmu dien. Allah memberikan kepada beliau kecintaan kepada ilmu dan hafalan Al quran. Dengan dukungan ayah beliau , imam nawawi memperoleh kemulian besar dalam kehidupan ilmiah.

Tsaqofah Imam Nawawi pindah ke Damsyik, tinggal di madrasah untuk menuntut ilmu. Beliau sangat tekun menuntut ilmu, hafal 'at tanbih' dalam waktu 4,5 bulan, di bulan sisanya di tahun itu beliau menghafal rab'ul muhadzdzab. Beliau belajar ilmu terus menerus hingga menjadi ulama besar dalam fiqh madzhab syafi'i, dalam bidang hadits dan bahasa.

Akhlaq Imam Nawawi dikenal sebagai seorang alim rabbani, zuhud dalam dunia, wara' dan beliau hampir tidak pernah berpaling dari ketaatan, kuat dalam amar ma'ruf nahi munkar, menasehati penguasa, tidak takut celaan orang karena Allah Ta'ala.

Kedudukan beliau Imam memiliki kedudukan yang tinggi yang dikenal oleh ulama di jamannya. Berkaitan dengan ini syaikh ibn farh menyatakan bahwa imam nawawi memiliki tiga derajat yang satu derajatnya saja sangat berat dicapai oleh orang lain, yaitu ilmu, zuhud dan amar ma'ruf nahi mungkar.
Wafat beliau Nawawi meninggal pada tanggal 14 rajab 176 H di Nawa. Umur Imam Nawawi memang tidak panjang, tidak lebih dari 45 tahun, meskipun demikian usia yang tidak panjang itu penuh barakah. Umur yang tidak panjang itu, beliau habiskan untuk ibadah, ketaatan, mengajar dan menulis.
Karya Imam Nawawi Beliau mewariskan peninggallan yang berharga dalam beragam ilmu-ilmu agama, yang dapat dibaca oleh para penelaah, dan pembaca. Disaat beliau diberi kekuatan pemahaman dalam memahami nash, ilmu fiqh, ushul fiqh, mustholah, bahasa dan bidang ilmu yang lain. Diantara karangan beliau adalah
1.Minhaj fi syarah shahih Muslim
2.taahdzibul asma' waal lughoh
3.Minhajuj tholibin
4.ad daqoiq
5.Tashhihul tanbih fi fiqhil asy syafi'iyah
6.Taqrib wa tahsin fi mushtolah al hadits
7.Riyadhus shalihin min kalamisayidil mursalin
Dan tulisan-tulisan lain yang masih banyak.


Menjadi seorang Muallaf Setelah Merampok toko Muslim

Merasa iba mendengar kata-kata si perampok,
Sohail membuka dompetnya lalu mengulurkan
uang tunai sebanyak $ 40 dan sebungkus roti.
Pada tengah malam itu, di sebuah sudut kota
di Amerika, Muhammad Sohail, 47 tahun,
tengah bersiap untuk menutup tokonya.
Namun tiba-tiba, ada seorang laki-laki
bertopeng datang menghampirinya dengan
membawa tongkat pemukul baseball dan
meminta Sohail untuk menyerahkan sejumlah
uang.
Tidak mau tunduk kepada penjahat tersebut,
Sohail langsung meraih senapan yang
diletakkan di bawah laci kasir tokonya.
Merasa kalah dalam hal senjata, laki-laki
bertopeng tersebut langsung kehilangan nyali.
Maka seketika itu juga dia menjatuhkan
tongkat pemukulnya ke tanah dan berlutut
memohon ampun sambil menangis.
Perampok tersebut mengatakan bahwa dia
terpaksa merampok untuk memenuhi
kebutuhan keluarganya, yang tengah
kelaparan. “Tolong jangan panggil polisi....
Saya tidak punya uang, saya tidak punya
makanan di rumah saya,” tutur Sohail
menirukan kata-kata perampok tersebut.
Merasa iba mendengar kata-kata si perampok,
Sohail membuka dompetnya lalu mengulurkan
uang tunai sebanyak $ 40 dan sebungkus
roti. Namun ia mengatakan, “Pulanglah,
kembalilah kepada keluargamu. Dan kamu
harus berhenti merampok.”
Perampok itu tertegun, dan secara tidak
terduga ia mengatakan kepada Sohail bahwa
dia ingin menjadi seorang muslim seperti
Sohail.
“Apakah kamu sungguh-sungguh dengan
ucapanmu itu?”
Sang perampok menjawab, “Ya. Saya ingin
menjadi muslim sepertimu....”
Maka Sohail pun kemudian menuntun
perampok tersebut untuk mengucapkan dua
kalimah syahadat.
Beberapa bulan kemudian, mantan perampok
itu mengirim surat kepada Sohail dan di dalam
surat tersebut berisi uang 40 dolar.
Dalam surat itu ia menulis, “You have changed
my life (Kamu telah mengubah hidupku).” Dan
di akhir surat, sang mantan perampok itu
menulis identitasnya, “your muslim brother
(saudaramu seiman)”.
Subhanallah…
AP, ES (sumber: Debatislam.com )


Selasa, 28 Agustus 2012

Tirakat Imam Ghazali

Setelah melalui perenungan mendalam, pada 488 H/1095 M ia meninggalkan Baghdad, dengan segala kemewahan dan ketermasyhurannya, menuju Damaskus, Syria, untuk menemukan ketenangan dan
kesejatian hidup.
Imam Ghazali, atau lengkapnya Syaikh
Abu Hamid Muhammad ibnu Muhammad
ibnu Ahmad Ath-Thusi Al-Ghazali, adalah
ulama besar penyusun kitab tasawuf Ihya Ulumuddin , yang sangat terkenal.
Al-Ghazali, anak pemintal wol dari Desa Ghazalah, sejak kanak-kanak memang
sudah rajin mempelajari ilmu agama.
Sejak belia ia sudah mengembara
mendulang ilmu kepada para ulama
besar, seperti Syaikh Ahmad ibnu
Muhammad Al-Razhani Al-Thusi, Abu
Nash Ismail Al-Jurjani, Syaikh Yusuf Al- Nassaj, Imam Al-Haramain (Imam
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) Abu
Ma’al Al-Juwaini, serta belajar tasawuf
kepada Syaikh Abu Ali Al-Fadhl ibnu
Muhammad ibnu Ali Farmadi.
Puncak pencapaian keilmuannya ialah
ketika ia diangkat menjadi rektor
Madrasah Tinggi Nizhamiyah, perguruan
paling bergengsi kala itu. Namun,
kemapanan hidup dan ketenaran tersebut
justru mulai menorehkan kegelisahan
jiwanya. Kesenangan hidup yang
melimpah malah membuatnya sakit.
Selama hampir enam bulan ia
terombang-ambing antara upaya
mempertahankan keduniawian dan
meraih kebahagiaan akhirat. Guncangan
jiwa itu terjadi ketika hatinya bertanya-
tanya, “Apakah sebenarnya pengetahuan
hakiki itu? Dapatkah pengetahuan hakiki
diraih melalui indra, ataukah dengan
akal?” Guncangan-guncangan ruhaniah
itu sempat membuatnya linglung. Tapi semua itu akhirnya terjawab dalam kitab Al-Munqidz Minadh Dhalal (Penyelamat
dari Kesesatan).

Dalam beberapa riwayat diceritakan,
untuk mengendapkan gejolak hatinya,
Ghazali menghentikan seluruh
aktivitasnya, baik perenungan maupun
ibadah, selama 40 hari, sampai akhirnya
cahaya Ilahi menerangi jiwa, qalbu, dan
raganya sehingga ia mampu keluar dari
keraguan.
Tasawuf, itulah jalan baru yang
dianggapnya tepat, yang kemudian
ditempuhnya untuk menjawab pertanyaan
demi pertanyaan yang mengusik
qalbunya.
Setelah melalui perenungan mendalam,
pada 488 H/1095 M ia meninggalkan
Baghdad, dengan segala kemewahan dan
ketermasyhurannya, menuju Damaskus,
Syria, untuk menemukan ketenangan dan
kesejatian hidup. Di bekas ibu kota
Dinasti Umayyah ini, ia hidup bersama
para sufi di Masjid Umawi. Ia menjalani
kehidupan zuhud, penuh riyadhah dan
mujahadah, dengan disiplin keras.
Pernah ia melakukan i’tikaf di menara
masjid selama beberapa bulan dengan
hanya makan sangat terbatas.
Tak lama kemudian ia hijrah ke Palestina.
Rupanya ia sengaja hendak berkhalwat di
Qubbatush Shakhrah di Baitul Maqdis,
sebuah gua tempat Nabi Dawud dan Nabi
Sulaiman pernah berkhalwat. Di sana pula
Rasulullah SAW berangkat mi’raj. Di
kubah berwarna kuning itu, setiap hari
Ghazali bermunajat kepada Allah SWT.
Semua pintu kubah ia kunci sehingga tak
ada yang mengganggunya. Kemudian ia berziarah ke makam Nab Ibrahim AS di Al-Khalil. Setelah merasa cukup, ia menuju Hijaz untuk beribadah haji dan menziarahi makam Rasulullah SAW.

Lalu ia bertolak ke Iskandariah, Mesir.
Baru beberapa hari tinggal di kota
pelabuhan ini, ia diminta kembali
memimpin perguruan Nizhamiyah. Maka
kembalilah ia ke Baghdad. Namun, saat
itu ia telah menjadi sufi, yang tentu tak
mungkin kerasan tinggal di ibu kota
Dinasti Abbasiyah, yang gemerlapan.
Maka tak lama kemudian ia pindah ke
Thus dan mendirikan Madrasah
Khanaqah sebagai lembaga untuk
memperdalam tasawuf. Di kota inilah,
pada 505 H/1111 M, ia menghadap Sang
Pencipta, dalam usia 55 tahun.
Perjumpaan Ruhani
Mengenai riyadhah bathinnya, ia
mengatakan, “Setelah semua kegelisahan
itu, perhatianku kupusatkan di jalan sufi.
Ternyata jalan ini tidak akan dapat
ditempuh kecuali dengan ilmu dan amal.
Langkahnya harus ditempuh melalui
tanjakan-tanjakan bathin dan penyucian
diri untuk mengkondisikan kesiapan
bathin, kemudian mengisinya dengan
dzikir kepada Allah SWT.”
Katanya lagi, “Bagiku, ilmu lebih mudah
daripada amal. Maka aku pun segera
memulai perjalanan spiritualku dengan
mempelajari ilmu para sufi terdahulu,
membaca karya-karya mereka. Antara lain
Qutb al-Qulub , karya Abu Thalib Al-
Makki, dan karya-karya Haris Al-
Muhasibi. Juga ujaran-ujaran Junaid Al-
Bagdadi, Asy-Syibli, Abu Yazid Al-
Busthami, dan lain-lain.”
Dari beberapa ungkapannya, terutama
ketika ia mengatakan “Penjelasan lebih
jauh kudengar sendiri dari lisan Al-Makki,
Al-Muhasibi, Al-Junaid, As-Syibli, dan
lain-lain”, sepertinya ia mengalami
perjumpaan dengan para pendahulunya
itu secara ruhani.
Mengenai praktek tasawuf, ia
menyatakan, ada hal-hal khusus yang
hanya dapat dicapai dengan dzauq
(perasaan) dan pengalaman bathin.
“Sangat jauh jika engkau bermaksud
memaknai sehat atau kenyang tanpa
mengalami sendiri rasa sehat atau
kenyang. Mengalami mabuk lebih jelas
daripada hanya mendengar keterangan
tentang arti mabuk. Maka, mengetahui
arti dan syarat-syarat zuhud tidak sama
dengan bersifat zuhud.”
Menurut Ghazali, kehidupan seorang
muslim tidak dapat dicapai dengan
sempurna kecuali mengikuti jalan Allah
secara bertahap. Tahapan-tahapan itu,
antara lain, taubat, sabar, fakir, zuhud,
tawakal, cinta, ma’rifat, dan ridha. Karena
itu, seseorang yang mempelajari tasawuf
wajib mendidik jiwa dan akhlaqnya.
Sementara itu, hati adalah cermin yang sanggup menangkap ma’rifat. Dan kesanggupan itu terletak dalam qalbu yang suci dan jernih.


Senin, 27 Agustus 2012

Bahayanya Sifat kikir dan keutamaan shadaqah

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Siti Aisyah RA bercerita, pada suatu ketika datanglah seorang perempuan kepada
Rasulullah SAW sedangkan tangan kanan perempuan itu dalam keadaan melepuh.

Perempuan itu berkata: "Wahai Rasulullah, mohonkanlah doa kepada Allah agar tanganku ini bisa sembuh seperti sedia
kala". Rasulullah SAW bertanya: "Apa yang menyebabkan tanganmu melepuh seperti itu?".
Perempuan itu menjawab: "Wahai
Rasulullah, pada suatu malam aku
bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi dan neraka jahim telah dinyalakan. Dan di jurang neraka itu aku melihat ibuku memegang sepotong lemak di tangan
kanan dan sebuah kain kecil di tangan kiri.

Hanya kain kecil dan lemak itulah yang menjaga ibuku dari terjangan api neraka".
"Wahai Rasulullah, melihat keadaan ibuku aku menjadi iba kemudian aku bertanya kepadanya, "Wahai ibu, kenapa engkau di
sini? bukankah engkau seorang ahli ibadah dan selalu taat pada suami?". Ibuku menjawab, "Benar wahai anakku, aku dulu
memang ahli ibadah dan selalu taat pada suami.. tapi sebenarnyalah aku seorang
yang kikir waktu hidup di dunia. Dan
tempat ini adalah tempat golongan orang2
yang kikir." Kemudian aku bertanya, "Kalau
kain kecil dan lemak yang ada di tanganmu
itu apa ibu?" Ibuku menjawab, "Hanya
inilah temanku di sini anakku, lemak dan kain kecil inilah yang pernah aku
shadaqahkan selama hidupku di dunia.

Dan kedua benda ini yang melindungiku dari terjangan api neraka." Kemudian aku bertanya, "Ayah di mana ibu? mengapa dia tidak menolong ibu?" Ibuku menjawab,

"Ayahmu bersama dengan orang-orang yang dermawan, anakku.."
"Wahai Rasulullah, kemudian akupun
mendatangi ayahku yang pada saat itu sedang menuang air di telagamu.., dan aku berkata kepada ayahku, "Wahai ayahku, ibuku saat ini sedang menderita dan ayah tahu bahwa ibu rajin beribadah dan selalu taat pada ayah, berikanlah seteguk air dari telaga ini untuk ibu.." Ayahku menjawab,
"Wahai anakku, air telaga ini haram bagi orang2 yang kikir seperti ibumu.."
"Wahai Rasulullah, karna belas kasihanku kepada ibuku maka akupun nekat mengambilkan segelas air dari telagamu itu untuk kuberikan kepada ibuku. Akan tetapi pada saat kuberikan air itu kepada ibuku, tiba-tiba terdengarlah olehku suara tanpa rupa, "Semoga Allah melepuhkan tanganmu." Kemudian akupun terbangun dan aku melihat tangan kananku ini melepuh, wahai Rasulullah.."
Rasulullah bersabda, "Begitu bahayanyasifat kikir ibumu itu.." Kemudian Beliau pun berdoa kapada Allah, maka sembuhlah tangan perempuan itu.
Demikianlah kisah tentang bahayanya sifat kikir dan keutamaan shadaqah. Semoga kita dapat memetik manfaatnya.

(J.Mu'tashim Billah - Mustofa Hasyim)