Pengikut

Kamis, 27 Juni 2013

8 Pilar Orang Bertasawuf

oleh: Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani

1. Bermurah hati seperti Nabi Ibrahim ( ﺍﻟﺴﺨﺎﺀ),

Sehingga mendapatkan gelar sebagai kekasih Allah (Khalil Allah);

2. Menyerah dengan sukarela atau ridha ( ﺍﻟﺮﺿﺎ )

Seperti Nabi Ismail, putra Nabi Ibrahim, yang begitu ridha, husti al-dzan dan sabar ketika menerima ketentuan Allah yang harus dijalankan oleh Nabi Ibrahim untuk menjadikannya sebagai qurban, di mana ia dijadikan sarana untuk ber-taqarrub, bahkan walau harus dengan menyerahkan nyawanya di hadapan Allah;

3. Bersabar seperti Nabi Ya'qub dan Nabi Ayyub ( ﺍﻟﺼﺒﺮ ).

Nabi Ya'qub begitu sabar menghadapi cobaan ulah dari
anak-anak- nya terhadap Yusuf, dengan mengatakan "kesabaran itu lebih indah". Sementara
itu Nabi Ayyub mendapatkan cobaan langsung dari Allah sebagaimana diukir dalam QS. Shaad: 44, yang menunjukkan kesabaran Beliau ketika menghadapi cobaan atas badan dan jiwanya, harta dan anak-anaknya, yang semuanya harus habis dalam rangka ber-taqarrub kepada Allah;

4. Ketelitian membaca ayat dan simbol dari Allah
( ﺍﻻﺷﺎﺭﺓ )
seperti Nabi Zakaria.

Syaikh mengharapkan agar setiap sufi dapat memahami simbol-simbol yang terdapat dalam ajaran Allah dan Rasul-Nya sebagaimana halnya Nabi Zakaria yang begitu cepat memahami apa-apa yang terjadi pada diri Maryam pada saat berada dalam mihrab (ada yang menyebutkan mihrab Masjid al-Harama Makkah), peristiwa didapatinya rezeki berupa makanan dan
buah-buahan di sisi Maryam yang diasingkan, yang menandakan kekuasaan Allah yang tidak terbatas;

5. Kondisi keterasingan batin dari dunia atau juga miskin hati dari dunia ( ﺍﻟﻐﺮﺑﺔ) seperti Nabi Yahya.

Yang dimaksudkan adalah
keadaan seorang sufi yang menjauhkan diri dari keramaian dan tetek bengek urusan kemanusiaan dan dunia yang sia-sia, hanya mendekatkan diri
kepada Allah di tengah-tengah kesunyian batin dari manusia, makhluk dan dunia. Nabi Yahya adalah tipe manusia yang selalu memperbanyak ibadah, mengosongkan hatinya dari kesibukan-kesibukan melainkan untuk Allah dan ridha-Nya semata.

Bahkan sampai tidak memiliki anak, istri, yang oleh Allah diberikan gelar "sayyidan wa khu- shuran, wa nabiyyan min al-shalihin" (Mu'jam al-Fadz al-
Shufiyyah al-Syarqawi, hlm. 216; Tafsir lbn Katsir, 1:361).

Hanya saja bagi al-Jailani tidak harus sedrastis itu. Memiliki istri dan anak bukanlah pantangan dalamsufi. Akan tetapiSyaikh
menekankan, istri dan anak jangan sampai menjauhkan dari Allah, dan tidak membuat hati
berpaling dari Allah, karena hal ini akan membuat Allah "cemburu", karena cintanya kepada Allah bisa
terbagi dengan makhluk (Futuh al-Ghaib, majlis no. 32);

6. Berpakaian dan berpenampilan sederhana,

sebagai corak manusia pilihan Tuhan seperti Nabi Musa bin Imran ( ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ) namun tentu
maksudnya adalah ﺍﻻﺻﺘﻔﺎﺀ), sebagaimana dinyatakan oleh al-Qur'an;

"Allah berfirman:"Hai Musa, Sesungguhnya aku memilih (melebih¬kan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang- orang yang bersyukur."

7. Mengembara seperti Nabi Isa ( ﺍﻟﺴﻴﺎﺣﺔ).

Maksudnya adalah bagian dari perjuangan yang harus dilalui oleh para sufi. Seorang sufi mesti melakukan musafir dan rihlah spiritual, yang artinya jauh dan rela berpisah dengan keluarga dan dunia yang disayanginya
untuk ridha Allah. Bepergian menjadi latihan-latihan bagi jiwa yang dilakukan dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah;

dan
8. "Miskin" dalam beragama
seperti Nabi Muhammad ( ﺍﻟﻔﻘﺮ ), maksudnya adalah kemiskinan di hadapan Allah.

Yang diingin- kan oleh Syaikh, "faqir" di sini bukan sebagai Iawan dari kata "al-ghina", melainkan merasa sangat membutuhkan Allah dalam segala realitas kehidupan, tanpa-Nya segala hajatdan keinginan, kekayaan dan sebagainya tidak akan berguna sama sekali.
Perihal tentang kekayaan dan kemiskinan, dalam majlis yang sama Syaikh al-Jailani mengemukakan bahwa hakekat kemiskin¬an adalah jika seseorang tidak lagi memerlukan apa-apa dari orang lain,sedangkan kekayaan adalah jika seseorang berada melampaui garis keperluan makhluk.

Al-Jailani juga mengingatkan kepada para pengikut tarekat agar tetap berpegang pada Sunah
Rasulullah dan syariat agama Islam. Dia juga mengingatkan bahwa syaitan banyak sekali
menyesatkan ahli tarekat dengan cara menggodanya agar meninggalkan syariat karena
sudah melaksanakan tarekatnya ('Abd al-Wahab al-Ja'rani, tt.: 109).

Sabtu, 22 Juni 2013

Nisfu Sya'ban, Persiapan Menuju Ramadhan

Nisfu Sya'ban, Persiapan Menuju
Ramadhan

Tanggal 23 Juni 2013 hari ini bertepatan dengan 15 Sya'ban atau lebih dikenal dengan nama nisfu syaban yang dalam tradisi Islam memiliki arti khusus.

Diberbagai pesantren dan masjid, warga NU selalu memperingatinya dengan membaca al Quran sehabis shalat
maghrib dan sekaligus melakukan doa agar setahun ke depan keadaan menjadi lebih baik.

Syuriah PBNU KH Hafidz Usman nyatakan bahwa pada tanggal ini kita tutup buku amal ibadah dan melakukan introspeksi terhadap
yang sudah kita lakukan selama tahun yang lalu dan berusaha memperbaikinya untuk tahun depan.

Ini merupakan bagian dari upaya kita untuk mempersiapkan diri menjelang bulan suci Ramadhan, selanjutnya dalam tradisi kita kan
mandi dan melakukan ziarah ke kubur para leluhur, ungkapnya ketika dihubungi per telepon.

Ditanya tentang apakah ada amalan khusus yang dibaca dalam malam nisfu syaban
Ketua MUI Jabar tersebut nyatakan bahwa mungkin amalan-amalan yang sifatnya khusus ada pada kelompok-kelompok tarekat tertentu yang tentu saja masing-masing berbeda.

Namun demikian, secara umum sehabis maghrib adalah membaca al Qur an dan lebih
khusus lagi adalah membaca surat Yasin tiga
kali, membaca doa Nisfu Sya'ban dan paginya puasa.

Nishfu Sha'ban ditandai dengan turunnya ayat 144 Surat Al Baqarah....Fa walli wajhaka
syathra al Masjidil Haram, wa haitsu ma kuntum fa wallu wujuhakum syathrahu....
Rasulullah (saw) hijrah ke Madinatul al Munawwarah, ketika beliau masih shalat menghadap Baitul Maqdis selama 16/17 bulan.

Shalat Rasulullah yang pertama menghadap Ka'bah ketika Shalat di masjid Bani Salim.

Baru dua rakaat shalat zhuhur, malaikat Jibril menarik lengan Rasulullah saw beliau dan dihadapkan ke Ka'bah.

Turunnya ayat 144 Srt Albaqarah ditengah shalat,menjadi Rasulullah saw Shalat Zuhur
menghadap ke Baitul Maqdis pada dua rakat pertama dan menghadap ke Ka'bah pada rakat
kedua achir.(mkf)

Kamis, 20 Juni 2013

Hukum Memainkan Rebana

Boleh hukumnya memainkan rebana (dan diiringi
dengan pembacaan shalawat) meskipun di dalam
masjid, misalnya untuk kepentingan acara
pernikahan. Hal itu diterangkan di dalam kitab:
1. Al-Fatawi al-Kubra al-Fiqhiyyah, karya Imam
Ibnu Hajar al-Haitami, jilid 4 halaman 356,
cetakan "Darul Fikr" Beirut Libanon dengan
keterangan sebagai berikut:
ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺳﻨﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ - ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ
ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻬﺎ - ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ
»ﺃﻋﻠﻨﻮﺍ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ ﻭﺍﻓﻌﻠﻮﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﺍﺿﺮﺑﻮﺍ ﻋﻠﻴﻪ
ﺑﺎﻟﺪﻑ « ﻭﻓﻴﻪ ﺇﻳﻤﺎﺀ
ﺇﻟﻰ ﺟﻮﺍﺯ ﺿﺮﺏ ﺍﻟﺪﻑ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻷﺟﻞ ﺫﻟﻚ ﻓﻌﻠﻰ
ﺗﺴﻠﻴﻤﻪ ﻳﻘﺎﺱ ﺑﻪ ﻏﻴﺮﻩ
Artinya:
"Dan di dalam kitab hadits "At-Tirmidzi" dan
"Sunan Ibnu Majah" dari Aisyah, semoga Allah
ta'ala meridhoinya !, bahwa Nabi shallallaahu
'alaihi wa sallam bersabda: Siarkanlah pernikahan
ini dan lakukanlah di masjid-masjid, dan
mainkanlah dengan rebana ! Di dalam hadits
tersebut merupakan isyarat akan dibolehkannya
memainkan rebana di masjid-masjid karena acara
resepsi pernikahan. Dengan demikian atas
ketaslimannya (menerima hukum dibolehkannya
memainkan rebana), maka dengan itu diqiyaskan
atau dianalogikan kepada memainkan rebana
selain untuk acara resepsi pernikahan."
2. Sunan Ibnu Majah, jilid 1 halaman 611, cetakan
"Darul Fikr" Beirut Libanon dengan keterangan
sebagai berikut:
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻧﺼﺮ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺠﻬﻀﻤﻲ ﻭ ﺍﻟﺨﻠﻴﻞ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ .
ﻗﺎﻝ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﻴﺴﻰ ﺍﺑﻦ ﻳﻮﻧﺲ , ﻋﻦ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻴﺎﺱ ,
ﻋﻦ ﺭﺑﻴﻌﺔ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ , ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ , ﻋﻦ
ﻋﺎﺋﺸﺔ , ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﺃﻋﻠﻨﻮﺍ
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ , ﻭ ﺍﺿﺮﺑﻮﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﻐﺮﺑﺎﻝ
Artinya:
=====
"Telah menceritakan kepada kami Nashr bin al-
Jahdhomi dan Kholil bin Amr, dia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Isya ibnu Yunus, dari
Kholid bin Ilyas, dari Robi'ah bin Abi
Abdurrahman, dari al-Qasim, dari Aisyah, dari
Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda: Dan siarkanlah pernikahan ini dan
mainkanlah rebana !"
3. Sunan at-Tirmidzi, jilid 2 halaman 276, cetakan
"Darul Fikr" Beirut Libanon

Oleh ; Kh. Thobary Syadzily

Senin, 20 Mei 2013

MUTIARA NASEHAT HADHRATUS SYAIKH KH. M. HASYIM ASY’ARI

MUTIARA NASEHAT HADHRATUS SYAIKH KH. M. HASYIM ASY’ARI

Diterjemahkan dari kitab al-Mawa’idz karya
Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Pendiri
Nahdlatul Ulama, Pengasuh Pondok Pesantren
Tebuireng Jombang.
Bismillahirrahmanirrahim...
(Risalah ini) dari makhluk yang termiskin, bahkan
pada hakikatnya dari orang yang tidak punya
sesuatu apapun, Muhammad Hasyim Asy’ari
semoga Allah Swt. mengampuni keturunannya dan
seluruh umat muslim. Kepada teman-teman yang
mulia penduduk tanah Jawa dan sekitarnya, baik
ulama maupun masyarakat umum.
Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Sungguh telah sampai kepadaku (sebuah kabar)
bahwa api fitnah dan pertikaian telah terjadi di
antara kalian semua. Kurenungkan sejenak apakah
kiranya penyebab dari itu semua. Kemudian aku
berkesimpulan bahwa penyebab itu semua adalah
karena masyarakat zaman sekarang telah banyak
yang mengganti dan merubah kitab Allah Swt. dan
Sunnah Rasulullah Saw. Allah Swt. berfirman
dalam surat al-Hujurat ayat 10: “Orang-orang
beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua
saudaramu itu.”
Sementara masyarakat sekarang menjadikan orang
mukmin sebagai musuh dan tidak ada upaya untuk
mendamaikan di antara mereka, bahkan ada
kecenderungan untuk merusaknya. Rasulullah Saw.
bersabda: “Jangan kalian saling menebar iri
dengki, jangan kalian saling membenci dan jangan
saling bermusuhan. Jadilah kalian bersaudara
wahai hamba-hamba Allah Swt.”
Sementara masyarakat zaman sekarang saling iri
dengki, saling membenci, saling bersaing (dalam
urusan dunia) dan akhirnya mereka menjadi
bermusuhan. Wahai para ulama yang fanatik
terhadap sebagian madzhab dan pendapat.
Tinggalkanlah fanatik kalian dalam urusan-urusan
far’iyyah (tidak fundamental) yang di dalamnya
ulama (masih) menawarkan dua pendapat, yaitu
pendapat yang mengatakan bahwa “Setiap mujtahid
(niscaya) benar”. Serta pendapat yang mengatakan
“Mujtahid yang benar (pasti hanya) satu, namun
(mujtahid) yang salah tetap mendapat pahala”.
Tinggalkanlah fanatik (kalian) dan tinggalkanlah
jurang yang akan merusak kalian. Lakukanlah
pembelaan terhadap agama Islam, berjuanglah
kalian untuk menangkis orang-orang yang mencoba
melukai al-Qur an dan sifat-sifat Allah Swt.
Berjuanglah kalian untuk menolak orang-orang
yang berilmu sesat dan akidah yang merusak.
Jihad untuk menolak mereka adalah wajib. Dan
sibukkanlah dirimu untuk senantiasa berjihad
melawan mereka.
Wahai manusia! Di antara kalian ada orang-orang
kafir yang memenuhi negeri ini, maka siapa lagi
yang yang bisa diharapkan bangkit untuk
mengawasi mereka dan serius untuk
menunjukkannya ke jalan yang benar?
Wahai para ulama, untuk urusan seperti ini (baca;
membela al-Qur an dan menolak orang yang
menodai agama), maka bersungguh-sungguhlah
kalian dan silakan kalian berfanatik. Adapun fanatik
kalian untuk urusan-urusan agama yang bersifat
far’iyyah dan mengarahkan manusia ke madzhab
tertentu atau pendapat tertentu, maka itu adalah
suatu hal yang tidak akan diterima Allah Swt. dan
tidak senangi oleh Rasulullah Saw.
Yang membuat kalian semua bertindak seperti itu
tiada lain kecuali hanya kefanatikan kalian
(terhadap madzhab tertentu), bersaing dalam
bermadzhab dan saling hasud. Sungguh, kalau saja
Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik,
Imam Ahmad, Ibnu Hajar dan Imam Ramliy masih
hidup, maka pasti mereka akan sangat ingkar dan
tidak sepakat atas (perbuatan) kalian dan tidak
mau bertanggung jawab atas apa yang kalian
perbuat.
Kalian mengingkari sesuatu yang masih dikhilafi
para ulama, sementara kalian melihat banyak orang
yang tak terhitung jumlahnya, meninggalkan shalat
yang hukumannya menurut Imam Syafi’i, Imam
Malik dan Imam Ahmad adalah potong leher. Dan
kalian tidak mengingkarinya sedikitpun. Bahkan
ada di antara kalian yang telah melihat banyak
melihat tetangganya tidak ada yang melaksanakan
shalat, tapi diam seribu bahasa.
Lantas bagaimana kalian mengingkari sebuah
urusan far’iyyah yang terjadi perbedaan pendapat
di antara ulama? Sementara pada saat yang sama
kalian tidak (pernah) mengingkari sesuatu yang
(nyata-nyata) diharamkan agama seperti zina,
riba, minum khamar dll.
Sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak
kalian untuk terpanggil (mengurusi) hal-hal yang
diharamkan Allah Swt. Kalian hanya terpanggil oleh
rasa fanatisme kalian kepada Imam Syafi’i dan
Imam Ibnu Hajar. Yang hal itu akan menyebabkan
tercerai-berainya persatuan kalian, terputusnya
hubungan keluarga kalian, terkalahkannya kalian
oleh orang yang bodoh-bodoh, jatuhnya wibawa
kalian di mata masyarakat umum dan harga diri
kalian akan jadi bahan omongan orang-orang yang
tolol dan akhirnya kalian akan (membalas)
merusak mereka sebab gunjingan mereka seputar
kalian. (Itu semua terjadi) karena daging kalian
telah teracuni dan kalian telah merusak diri kalian
dengan dosa-dosa besar yang kalian perbuat.
Wahai para ulama, apabila kalian melihat orang
yang mengamalkan pendapat dari para imam ahli
madzhab yang memang boleh untuk diikuti,
walaupun pendapat itu tidak unggul, apabila kalian
tidak sepakat dengan mereka, maka jangan kalian
menghukuminya dengan keras, tapi tunjukkanlah
mereka dengan lembut. Dan apabila mereka tidak
mau mengikuti anjuran kalian, maka jangan sekali-
sekali kalian menjadikan mereka sebagai musuh.
Perumpamaan orang-orang yang melakukan hal di
atas adalah seperti orang yang membangun gedung
tapi merobohkan tatanan kota.
Jangan kalian jadikan keengganan mereka untuk
mengikuti kalian, sebagai alasan untuk perpecahan,
pertikaian dan permusuhan. Sesungguhnya
perpecahan, pertikaian dan permusuhan adalah
kejahatan yang mewabah dan dosa besar yang bisa
merobohkan tatanan kemasyarakatan dan bisa
menutup pintu kebaikan.
Untuk itu, Allah Swt. melarang hambaNya yang
mukmin dari pertentangan dan Allah Swt.
mengingatkan mereka bahwa akibatnya sangat
buruk serta ujung-ujungnya sangat menyakitkan.
Allah Swt. berfirman dalam surat al-Anfal ayat 46:
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu.”
Wahai orang-orang muslim, sesungguhnya di dalam
tragedi yang terjadi hari-hari ini, ada ‘ibrah
(hikmah) yang banyak serta nasehat yang sangat
layak diambil oleh orang yang cerdas dari hanya
mendengarkan mau’idzahnya para penceramah dan
nasehatnya pada mursyid.
Ingatlah bahwa kejadian di atas adalah merupakan
kejadian yang setiap saat akan selalu menghampiri
kita. Maka apakah bagi kita bisa mengambil ‘ibrah
dan hikmah? Dan apakah kita sadar dari lelap dan
lupa kita?
Dan kita mesti sadar, kebahagiaan kita itu
tergantung dari sifat tolong menolong kita,
persatuan kita, kejernihan hati kita dan keikhlasan
sebagian dari kita kepada yang lain. Ataukah kita
tetap berteduh di bawah perpecahan, pertikaian,
saling menghina, hasud dan kesesatan? Sementara
agama kita satu, yaitu Islam dan madzhab kita
satu, yaitu Imam Syafi’i dan daerah kita juga satu
yaitu Jawa. Dan kita semua adalah pengikut
Ahlussunnah wal Jama’ah.
Maka demi Allah Swt., sesungguhnya perpecahan,
pertikaian, saling menghina dan fanatik madzhab
adalah musibah yang nyata dan kerugian yang
besar.
Wahai orang-orang Islam, bertaqwalah kepada
Allah Swt. dan kembalilah kalian semua kepada
Kitab Tuhan kalian. Dan amalkan Sunnah Nabi
kalian serta ikutilah jejak para pendahulu kalian
yang shaleh-shaleh. Maka kalian akan berbahagia
dan beruntung seperti mereka.
Bertaqwalah kepada Allah Swt. dan damaikanlah
orang-orang yang berseteru di antara kalian. Saling
tolong menolonglah kalian atas kebaikan dan
taqwa. Jangan saling tolong menolong atas dosa
dan aniaya, maka Allah Swt. akan melindungi
kalian dengan rahmatNya dan akan menebarkan
kebaikanNya. Jangan seperti orang yang berkata:
“Aku mendengarkan” padahal mereka tidak
mendengarkan.
Wassalamu fi al-mabda’ wa al-khitam.
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 29 Maret 2013
Diterjemahkan dari kitab al-Mawa’idz karya
Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Pendiri
Nahdlatul Ulama, Pengasuh Pondok Pesantren
Tebuireng Jombang.
Bismillahirrahmanirrahim...
(Risalah ini) dari makhluk yang termiskin, bahkan
pada hakikatnya dari orang yang tidak punya
sesuatu apapun, Muhammad Hasyim Asy’ari
semoga Allah Swt. mengampuni keturunannya dan
seluruh umat muslim. Kepada teman-teman yang
mulia penduduk tanah Jawa dan sekitarnya, baik
ulama maupun masyarakat umum.
Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Sungguh telah sampai kepadaku (sebuah kabar)
bahwa api fitnah dan pertikaian telah terjadi di
antara kalian semua. Kurenungkan sejenak apakah
kiranya penyebab dari itu semua. Kemudian aku
berkesimpulan bahwa penyebab itu semua adalah
karena masyarakat zaman sekarang telah banyak
yang mengganti dan merubah kitab Allah Swt. dan
Sunnah Rasulullah Saw. Allah Swt. berfirman
dalam surat al-Hujurat ayat 10: “Orang-orang
beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua
saudaramu itu.”
Sementara masyarakat sekarang menjadikan orang
mukmin sebagai musuh dan tidak ada upaya untuk
mendamaikan di antara mereka, bahkan ada
kecenderungan untuk merusaknya. Rasulullah Saw.
bersabda: “Jangan kalian saling menebar iri
dengki, jangan kalian saling membenci dan jangan
saling bermusuhan. Jadilah kalian bersaudara
wahai hamba-hamba Allah Swt.”
Sementara masyarakat zaman sekarang saling iri
dengki, saling membenci, saling bersaing (dalam
urusan dunia) dan akhirnya mereka menjadi
bermusuhan. Wahai para ulama yang fanatik
terhadap sebagian madzhab dan pendapat.
Tinggalkanlah fanatik kalian dalam urusan-urusan
far’iyyah (tidak fundamental) yang di dalamnya
ulama (masih) menawarkan dua pendapat, yaitu
pendapat yang mengatakan bahwa “Setiap mujtahid
(niscaya) benar”. Serta pendapat yang mengatakan
“Mujtahid yang benar (pasti hanya) satu, namun
(mujtahid) yang salah tetap mendapat pahala”.
Tinggalkanlah fanatik (kalian) dan tinggalkanlah
jurang yang akan merusak kalian. Lakukanlah
pembelaan terhadap agama Islam, berjuanglah
kalian untuk menangkis orang-orang yang mencoba
melukai al-Qur an dan sifat-sifat Allah Swt.
Berjuanglah kalian untuk menolak orang-orang
yang berilmu sesat dan akidah yang merusak.
Jihad untuk menolak mereka adalah wajib. Dan
sibukkanlah dirimu untuk senantiasa berjihad
melawan mereka.
Wahai manusia! Di antara kalian ada orang-orang
kafir yang memenuhi negeri ini, maka siapa lagi
yang yang bisa diharapkan bangkit untuk
mengawasi mereka dan serius untuk
menunjukkannya ke jalan yang benar?
Wahai para ulama, untuk urusan seperti ini (baca;
membela al-Qur an dan menolak orang yang
menodai agama), maka bersungguh-sungguhlah
kalian dan silakan kalian berfanatik. Adapun fanatik
kalian untuk urusan-urusan agama yang bersifat
far’iyyah dan mengarahkan manusia ke madzhab
tertentu atau pendapat tertentu, maka itu adalah
suatu hal yang tidak akan diterima Allah Swt. dan
tidak senangi oleh Rasulullah Saw.
Yang membuat kalian semua bertindak seperti itu
tiada lain kecuali hanya kefanatikan kalian
(terhadap madzhab tertentu), bersaing dalam
bermadzhab dan saling hasud. Sungguh, kalau saja
Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik,
Imam Ahmad, Ibnu Hajar dan Imam Ramliy masih
hidup, maka pasti mereka akan sangat ingkar dan
tidak sepakat atas (perbuatan) kalian dan tidak
mau bertanggung jawab atas apa yang kalian
perbuat.
Kalian mengingkari sesuatu yang masih dikhilafi
para ulama, sementara kalian melihat banyak orang
yang tak terhitung jumlahnya, meninggalkan shalat
yang hukumannya menurut Imam Syafi’i, Imam
Malik dan Imam Ahmad adalah potong leher. Dan
kalian tidak mengingkarinya sedikitpun. Bahkan
ada di antara kalian yang telah melihat banyak
melihat tetangganya tidak ada yang melaksanakan
shalat, tapi diam seribu bahasa.
Lantas bagaimana kalian mengingkari sebuah
urusan far’iyyah yang terjadi perbedaan pendapat
di antara ulama? Sementara pada saat yang sama
kalian tidak (pernah) mengingkari sesuatu yang
(nyata-nyata) diharamkan agama seperti zina,
riba, minum khamar dll.
Sama sekali tidak pernah terbersit dalam benak
kalian untuk terpanggil (mengurusi) hal-hal yang
diharamkan Allah Swt. Kalian hanya terpanggil oleh
rasa fanatisme kalian kepada Imam Syafi’i dan
Imam Ibnu Hajar. Yang hal itu akan menyebabkan
tercerai-berainya persatuan kalian, terputusnya
hubungan keluarga kalian, terkalahkannya kalian
oleh orang yang bodoh-bodoh, jatuhnya wibawa
kalian di mata masyarakat umum dan harga diri
kalian akan jadi bahan omongan orang-orang yang
tolol dan akhirnya kalian akan (membalas)
merusak mereka sebab gunjingan mereka seputar
kalian. (Itu semua terjadi) karena daging kalian
telah teracuni dan kalian telah merusak diri kalian
dengan dosa-dosa besar yang kalian perbuat.
Wahai para ulama, apabila kalian melihat orang
yang mengamalkan pendapat dari para imam ahli
madzhab yang memang boleh untuk diikuti,
walaupun pendapat itu tidak unggul, apabila kalian
tidak sepakat dengan mereka, maka jangan kalian
menghukuminya dengan keras, tapi tunjukkanlah
mereka dengan lembut. Dan apabila mereka tidak
mau mengikuti anjuran kalian, maka jangan sekali-
sekali kalian menjadikan mereka sebagai musuh.
Perumpamaan orang-orang yang melakukan hal di
atas adalah seperti orang yang membangun gedung
tapi merobohkan tatanan kota.
Jangan kalian jadikan keengganan mereka untuk
mengikuti kalian, sebagai alasan untuk perpecahan,
pertikaian dan permusuhan. Sesungguhnya
perpecahan, pertikaian dan permusuhan adalah
kejahatan yang mewabah dan dosa besar yang bisa
merobohkan tatanan kemasyarakatan dan bisa
menutup pintu kebaikan.
Untuk itu, Allah Swt. melarang hambaNya yang
mukmin dari pertentangan dan Allah Swt.
mengingatkan mereka bahwa akibatnya sangat
buruk serta ujung-ujungnya sangat menyakitkan.
Allah Swt. berfirman dalam surat al-Anfal ayat 46:
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu.”
Wahai orang-orang muslim, sesungguhnya di dalam
tragedi yang terjadi hari-hari ini, ada ‘ibrah
(hikmah) yang banyak serta nasehat yang sangat
layak diambil oleh orang yang cerdas dari hanya
mendengarkan mau’idzahnya para penceramah dan
nasehatnya pada mursyid.
Ingatlah bahwa kejadian di atas adalah merupakan
kejadian yang setiap saat akan selalu menghampiri
kita. Maka apakah bagi kita bisa mengambil ‘ibrah
dan hikmah? Dan apakah kita sadar dari lelap dan
lupa kita?
Dan kita mesti sadar, kebahagiaan kita itu
tergantung dari sifat tolong menolong kita,
persatuan kita, kejernihan hati kita dan keikhlasan
sebagian dari kita kepada yang lain. Ataukah kita
tetap berteduh di bawah perpecahan, pertikaian,
saling menghina, hasud dan kesesatan? Sementara
agama kita satu, yaitu Islam dan madzhab kita
satu, yaitu Imam Syafi’i dan daerah kita juga satu
yaitu Jawa. Dan kita semua adalah pengikut
Ahlussunnah wal Jama’ah.
Maka demi Allah Swt., sesungguhnya perpecahan,
pertikaian, saling menghina dan fanatik madzhab
adalah musibah yang nyata dan kerugian yang
besar.
Wahai orang-orang Islam, bertaqwalah kepada
Allah Swt. dan kembalilah kalian semua kepada
Kitab Tuhan kalian. Dan amalkan Sunnah Nabi
kalian serta ikutilah jejak para pendahulu kalian
yang shaleh-shaleh. Maka kalian akan berbahagia
dan beruntung seperti mereka.
Bertaqwalah kepada Allah Swt. dan damaikanlah
orang-orang yang berseteru di antara kalian. Saling
tolong menolonglah kalian atas kebaikan dan
taqwa. Jangan saling tolong menolong atas dosa
dan aniaya, maka Allah Swt. akan melindungi
kalian dengan rahmatNya dan akan menebarkan
kebaikanNya. Jangan seperti orang yang berkata:
“Aku mendengarkan” padahal mereka tidak
mendengarkan.
Wassalamu fi al-mabda’ wa al-khitam.
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 29 Maret 2013