Pengikut

Sabtu, 04 Agustus 2012

SEBAIK-BAIK PERMOHONAN KEPADA ALLAH SWT

oleh Thobary Syadzily

SEBAIK-BAIK PERMOHONAN KEPADA ALLAH SWT ==============================

ﺧﻴﺮﻣﺎ ﺗﻄﻠﺒﻪ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﻫﻮ ﻃﺎﻟﺒﻪ ﻣﻨﻚ

Artinya: =====
Sebaik-baik permohonan kepada Allah yang
engkau ajukan kepada-Nya adalah sesuatu yang dituntut oleh-Nya agar engkau dapat
melakukannya. (Iqazul Himam, halaman 168,
cetakan "Darul Kutub al-'Ilmiyyah", Beirut -
Libanon) Penjelasan: ======= Do'a kepada
Allah SWT yang diajukan hamba-Nya
sebaiknya tidak boleh ke luar dari dua sifat
seperti berikut ini: 1. Do'a atau permohonan
kepada Allah SWT hendaknya yang diridhoi
oleh-Nya, bahkan termasuk dalam perintah-
Nya atau anjuran-Nya. Jika demikian, maka
itulah do'a yang lebih baik dari kita. Sebab,
kita memohon kepada Allah SWT untuk
memudahkan bagaimana melaksanakan
perintah-Nya dan bagaimana bisa
mengamalkan anjuran-anjuran-Nya.
Contohnya: Permohonan kita kepada Allah
agar Dia memberikan istiqamah ta'at dan
ibadah semata-mata karena-Nya dan
mengharapkan keridhoan-Nya. Jika Allah
mengabulkan do'a kita, maka wajib kita
bersyukur kepada-Nya. Jika belum terkabul,
maka kita tidak boleh putus asa dan kita
terus tidak lupa mengharapkan rahmat dan
kasih sayang-Nya.. Oleh karena itu, do'a-
doa atau permohonan-permohonan kita
kepada-Nya, hendaklah kita sesuaikan
dengan keadaan kita, sebagaimana yang
diterangkan oleh seora sufi besar bernama
Abul Abbas Al-Mirsy r.a. sebagai berikut:
Artinya: ===== "Keadaan manusia itu ada
empat perkara dan tidak ada yang kelima
darinya, yaitu: 1. Nikmat, 2. Bala / cobaan, 3.
Ta'at, 4. Maksiat. Jika engkau diberikan
nikmat oleh Allah SWT, maka Allah
menghendaki agar engkau mensyukurinya.
Jika, engkau diberikan bala atau cobaan,
maka Allah menghendaki agar engkau
bersabar. Jika, engkau selalu taat kepada-
Nya, maka Allah menghendaki agar engkau
melihat anugerah-Nya. Dan jika, engkau
berbuat durhaka kepada Allah, maka Dia
menghendaki agar engkau segera bertaubat
dan meminta ampun kepada-Nya." Itulah
empat perkara tentang keadaan manusia
yang harus dipikirkan di setiap saat atau
waktu. Olehkarena itu, kita harus melihat
kepada diri kita sendiri. Jika, kita diberikan
nikmat oleh Allah SWT, maka kita harus
bersyukur terhadap nikmat itu dan
hadapkanlah wajah kita kepada-Nya atas
nikmat-nikmat-Nya. Jika, kita sedang diberi
cobaan oleh Allah SWT, maka kita harus
bersabar. Sebab, cobaan itu adalah
kehendak Allah dan Dia sedang menguji kita
dengan cobaan-Nya. Masalah apakah kita
kuat atau tidak menerima cobaan itu, maka
sudah barangtentu kita panjatkan do'a
kepada-Nya, agar Dia memberikan
kesabaran kepada kita. Sehingga, kita bisa
terlepas dengan baik dari cobaan itu. Jika,
kita dikarunia Allah SWT berupa taat dan
patuh kepada-Nya dalam mengerjakan
perintahan dan anjuran-Nya serta menjauhi
larangan-Nya, maka kita lihat bahwa itu
adalah anugerah-Nya, bukan karena atas
kepintaran kita, bukan karena kecerdika kita,
bukan karena kealiman kita, dan bukan pula
karena kerajinan kita sebagai orang yang taa
kepada-Nya. Tetapi, itu merupakan
anugerah Allah SWT semata. Berdo'alah
kepada Allah supaya anugerah-Nya
dilipatgandakan kepada kita ! Sehingga,
ketaatan kita bisa meningkat dan keimanan
kita bisa bertambah kuat. Dengan demikian,
mudah-mudahan kita selamat dunia dan
akherat ! Jika, kita berada dalam maksiat,
baik disengaja maupun tidak, tetapi yang
jelas bahwa Allah SWT menghendaki agar
kita segera bertaubat kepada-Nya, yaitu
kembali ke jalan yang benar dan
meninggalkan segala perbuatan maksiat. Di
samping itu, kita harus menyesal atas
perbuatan maksiat itu. Kita harus meminta
ampun kepada-Nya. Dengan demikian,
mudah-mudahan Dia mengampuni atas
segala dosa-dosa yang kita lakukan
kepada-Nya ! 2. Do'a do'a atau
permohonan-permohonan kepada Allah
SWT itu sifatnya sejalan dengan nafsu kita.,
sesuai dengan hawa nafsu kita dan seirama
dengan maksud hati kita.. Misalnya, do'a
memohon kepada Allah agar kita dikayakan
oleh-Nya, agar badan kita diberi kesehatan
dan keselamatan, agar pangkat atau jabatan
kita naik, agar usaha atau dagang kita maju,
dan lain sebagainya. Do'a-do'a seperti ini
termasuk baik juga, sebab tidak
bertentangan dengan keridhoan Allah SWT
dan tidak ada tujuan-tujuan yang tidak baik.
Tetapi, jika dibandingkan dengan sifat do'a
tersebut di atas, maka do'a yang tersebut di
atas itu lebih baik. Olehkarena itu,
hendaklah kita lebih dahulukan do'a atau
permohonan yang tersebut di atas daripada
do'a atau permohonan yang bersifat seperti
ini. Sebab, do'a dalam sifat yang pertama
akan cepat dibantu dan dikabul oleh-Nya.


Kamis, 02 Agustus 2012

UAIS AL-QORNI (Waliyullah yang tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit)

UAIS AL-QORNI
(Waliyullah yang tak terkenal di bumi tapi
terkenal di langit)
-----------------------------
Ketaatan yang mengagumkan kepada
bundanya
-----------------------------

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya
kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya,
tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan
menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang
menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti
terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti
dahulu dan disuruh memberi syafa’at,
ternyata Allah memberi izin dia untuk
memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan
surga tak ada yang ketinggalan karenanya.

Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal
banyak orang dan juga miskin, banyak
orang suka menertawakan, mengolok-olok,
dan menuduhnya sebagai tukang
membujuk, tukang mencuri serta berbagai
macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin
duduk dengannya, memberinya hadiah dua
helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik,
karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata :
“Aku khawatir, nanti sebagian orang
menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi
yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya
ibunya yang telah tua renta dan lumpuh.
Hanya penglihatan kabur yang masih
tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai
penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar
menopang kesehariannya bersama Sang
ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk
membantu tetangganya yang hidup miskin
dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba
dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta,
tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya,
ia tetap melakukan puasa di siang hari dan
bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada
masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi
Muhammad SAW. yang telah mengetuk
pintu hati mereka untuk menyembah Allah,
Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu
bagi-Nya. Islam mendidik setiap
pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di
dalamnya sangat menarik hati Uwais,
sehingga setelah seruan Islam datang di
negeri Yaman, ia segera memeluknya,
karena selama ini hati Uwais selalu
merindukan datangnya kebenaran. Banyak
tetangganya yang telah memeluk Islam,
pergi ke Madinah untuk mendengarkan
ajaran Nabi Muhammad SAW secara
langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka
memperbarui rumah tangga mereka dengan
cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat
tetangganya yang baru datang dari
Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan
bertemu” dengan kekasih Allah penghulu
para Nabi, sedang ia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah
menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk
bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah
daya ia tak punya bekal yang cukup untuk
ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan
adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada
yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud
Rasulullah SAW mendapat cedera dan
giginya patah karena dilempari batu oleh
musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya
terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul
giginya dengan batu hingga patah. Hal
tersebut dilakukan sebagai bukti
kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun
ia belum pernah melihatnya. Hari berganti
dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak
terbendung membuat hasrat untuk bertemu
tak dapat dipendam lagi. Uwais
merenungkan diri dan bertanya dalam hati,
kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan
memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi,
bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
membutuhkan perawatannya dan tak tega
ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah
siang dan malam menahan kerinduan untuk
berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati
ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan
memohon izin kepada ibunya agar
diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW
di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur,
merasa terharu ketika mendengar
permohonan anaknya. Beliau memaklumi
perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah
wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya.
Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau
kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia
berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan
ditinggalkan serta berpesan kepada
tetangganya agar dapat menemani ibunya
selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang
ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah
yang berjarak kurang lebih empat ratus
kilometer dari Yaman. Medan yang begitu
ganas dilaluinya, tak peduli penyamun
gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir
yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu
dingin di malam hari, semuanya dilalui demi
bertemu dan dapat memandang sepuas-
puasnya paras baginda Nabi SAW yang
selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-
Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke
rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah
itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah
sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab
salam Uwais. Segera saja Uwais
menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya.
Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang.
Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh
ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya
tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak
perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi
SAW dari medan perang.
Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan
masih terngiang di telinga pesan ibunya
yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar
ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus
lekas pulang”. Karena ketaatan kepada
ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemauannya
untuk menunggu dan berjumpa dengan
Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa
mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a.
untuk segera pulang ke negerinya. Dia
hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW
dan melangkah pulang dengan perasaan
haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW
langsung menanyakan tentang kedatangan
orang yang mencarinya. Nabi Muhammad
SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni
adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia
adalah penghuni langit (sangat terkenal di
langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan
para sahabatnya tertegun. Menurut
informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang
benar ada yang mencari Nabi SAW dan
segera pulang kembali ke Yaman, karena
ibunya sudah tua dan sakit-sakitan
sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW
bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa
dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah,
ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah
telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w.
dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda :
“Suatu ketika, apabila kalian bertemu
dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya,
dia adalah penghuni langit dan bukan
penghuni bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama
kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-
Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah
Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar
teringat akan sabda Nabi SAW. tentang
Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau
segera mengingatkan kepada sayyidina Ali
k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu,
setiap ada kafilah yang datang dari Yaman,
beliau berdua selalu menanyakan tentang
Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama
mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang
merasa heran, apakah sebenarnya yang
terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau
berdua. Rombongan kafilah dari Yaman
menuju Syam silih berganti, membawa
barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama
rombongan kafilah menuju kota Madinah.
Melihat ada rombongan kafilah yang datang
dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan
sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama
mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa
ia ada bersama mereka dan sedang menjaga
unta-unta mereka di perbatasan kota.
Mendengar jawaban itu, beliau berdua
bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais
berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali
k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais
sedang melaksanakan sholat. Setelah
mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab
salam kedua tamu agung tersebut sambil
bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah
Umar segera membalikkan tangan Uwais,
untuk membuktikan kebenaran tanda putih
yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh
baginda Nabi SAW.
Memang benar !
Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh
kedua tamu tersebut, siapakah nama
saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais.
Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun
tertawa dan mengatakan : “Kami juga
Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah
namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-
Qorni”. Dalam pembicaraan mereka,
diketahuilah bahwa ibu Uwais telah
meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru
dapat turut bersama rombongan kafilah
dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar
dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan
dan dia berkata kepada khalifah:
“Sayalah yang harus meminta do’a kepada
kalian”. Mendengar perkataan Uwais,
Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk
mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena
desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni
akhirnya mengangkat kedua tangannya,
berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah
itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk
menyumbangkan uang negara dari Baitul
Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.
Segera saja Uwais menolak dengan halus
dengan berkata : “Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk
hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang
fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali
tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada
seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong
oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada
di atas kapal menuju tanah Arab bersama
para pedagang, tanpa disangka-sangka
angin topan berhembus dengan kencang.
Akibatnya hempasan ombak menghantam
kapal kami sehingga air laut masuk ke
dalam kapal dan menyebabkan kapal
semakin berat. Pada saat itu, kami melihat
seorang laki-laki yang mengenakan selimut
berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi,
lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar
dari kapal dan melakukan sholat di atas air.
Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.
“Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi
lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru
lagi,” Demi Zat yang telah memberimu
kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki
itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa
yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat
bahwa kapal dihembus angin dan dihantam
ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri
kalian pada Allah ! “katanya. “Kami telah
melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal
dengan membaca
bismillahirrohmaanirrohiim!”
Kami pun keluar dari kapa satu persatu dan
berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah
kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib,
kami semua tidak tenggelam, sedangkan
perahu kami berikut isinya tenggelam ke
dasar laut. Lalu orang itu berkata pada
kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi
korban asalkan kalian semua selamat”.
“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah
nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”.
Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya,
“Sesungguhnya harta yang ada di kapal
tersebut adalah milik orang-orang fakir di
Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”
“Jika Allah mengembalikan harta kalian.
Apakah kalian akan membagi-bagikannya
kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun
melaksanakan sholat dua rakaat di atas air,
lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni
mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul
ke permukaan air, lalu kami menumpanginya
dan meneruskan perjalanan. Setibanya di
Madinah, kami membagi-bagikan seluruh
harta kepada orang-orang fakir di Madinah,
tidak satupun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar
kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke
rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan
dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang
yang berebutan untuk memandikannya. Dan
ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk
dikafani, di sana sudah ada orang-orang
yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika
orang pergi hendak menggali kuburnya. Di
sana ternyata sudah ada orang-orang yang
menggali kuburnya hingga selesai. Ketika
usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar
biasa banyaknya orang yang berebutan
untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah
bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut
mengurusi jenazahnya hingga aku pulang
dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku
bermaksud untuk kembali ke tempat
penguburannya guna memberi tanda pada
kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat
ada bekas kuburannya.
(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang
yang pernah ikut berperang bersama Uwais
al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina
Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah
menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat
mengherankan. Sedemikian banyaknya
orang yang tak dikenal berdatangan untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya,
padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak
dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan
sampai ketika jenazahnya hendak
diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu
ada orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu.
Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka
saling bertanya-tanya : “Siapakah
sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ?
Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah
seorang fakir yang tak memiliki apa-apa,
yang kerjanya hanyalah sebagai
penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika
hari wafatmu, engkau telah menggemparkan
penduduk Yaman dengan hadirnya
manusia-manusia asing yang tidak pernah
kami kenal. Mereka datang dalam jumlah
sedemikian banyaknya. Agaknya mereka
adalah para malaikat yang di turunkan ke
bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan
pemakamannya. Baru saat itulah penduduk
Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-
Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi
terkenal di langit.


Mengenal Mazhab yuk . . !


Firman Allah ta’ala yang artinya
“ Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) dari golongan
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang
mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha
kepada mereka dan merekapun ridha kepada
Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai
di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal
di dalamnya. Itulah kemenangan yang
besar ”. (QS At Taubah [9]:100 )
Dari firmanNya di atas dapat kita ketahui
bahwa orang-orang yang diridhoi oleh Allah
Azza wa Jalla adalah orang-orang yang
mengikuti Salafush Sholeh.
Sedangkan orang-orang yang mengikuti
Salafush Sholeh yang paling awal dan
utama adalah Imam Mazhab yang empat
karena Imam Mazhab yang empat bertemu
dan bertalaqqi (mengaji) dengan Salafush
Sholeh sehingga Imam Mazhab yang empat
mendapatkan pemahaman Salafush Sholeh
dari lisannya langsung dan Imam Mazhab
yang empat melihat langsung cara
beribadah atau manhaj Salafush Sholeh.
Imam Mazhab yang empat adalah para
ulama yang sholeh dari kalangan “ orang-
orang yang membawa hadits” yakni
membawanya dari Salafush Sholeh yang
meriwayatkan dan mengikuti sunnah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Jadi cara kaum muslim mengikuti Salafush
Sholeh dengan cara bertalaqqi (mengaji)
dengan para ulama yang sholeh dari
kalangan “ orang-orang yang membawa
hadits”.
Para ulama yang sholeh dari kalangan
“ orang-orang yang membawa hadits”
adalah para ulama yang sholeh yang
mengikuti Imam Mazhab yang empat yakni
para ulama yang sholeh yang memiliki
ketersambungan sanad ilmu atau sanad
guru dengan Imam Mazhab yang empat
atau memiliki ilmu riwayah dan dirayah dari
Imam Mazhab yang empat.
Bahkan kalau melalui para ulama yang
sholeh dari kalangan ahlul bait, keturunan
cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
pada umumnya memiliki ketersambungan
dengan lisannya Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam melalui dua jalur yakni
1. Melalui nasab (silsilah / keturunan).
Pengajaran agama baik disampaikan melalui
lisan maupun praktek yang diterima dari
orang tua-orang tua mereka terdahulu
tersambung kepada Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam
2. Melalui sanad ilmu atau sanad guru.
Pengajaran agama dengan bertalaqqi
(mengaji) dengan para ulama yang sholeh
yang mengikuti Imam Mazhab yang empat
yakni para ulama yang sholeh memiliki ilmu
riwayah dan dirayah dari Imam Mazhab
yang empat atau para ulama yang sholeh
yang memiliki ketersambungan sanad ilmu
atau sanad guru dengan Imam Mazhab
yang empat
Sehingga para ulama yang sholeh dari
kalangan ahlul bait, keturunan cucu
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lebih
terjaga kemutawatiran sanad, kemurnian
agama dan akidahnya.

Sanad ini sangat penting, dan merupakan
salah satu kebanggaan Islam dan umat.
Karena sanad inilah Al-Qur’an dan sunah
Nabawiyah terjaga dari distorsi kaum kafir
dan munafik. Karena sanad inilah warisan
Nabi tak dapat diputar balikkan.
Ibnul Mubarak berkata :” Sanad merupakan
bagian dari agama, kalaulah bukan karena
sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa
saja yang mau dengan apa saja yang
diinginkannya (dengan akal pikirannya
sendiri). ” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim
dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47
no:32 )
Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan
“ tiada ilmu tanpa sanad”.
Imam Malik ra berkata: “ Janganlah engkau
membawa ilmu (yang kau pelajari) dari
orang yang tidak engkau ketahui catatan
(riwayat) pendidikannya (sanad ilmu) ”
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah
mengatakan “ Penuntut ilmu tanpa sanad
adalah bagaikan orang yang ingin naik ke
atap rumah tanpa tangga ”
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy ,
quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi
60) ; “B arangsiapa tidak memiliki susunan
guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu
lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-
Bayan Juz 5 hal. 203
Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-
Hasani menyampaikan bahwa “ maksud dari
pengijazahan sanad itu adalah agar kamu
menghafazh bukan sekadar untuk
meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani
orang yang kamu mengambil sanad
daripadanya, dan orang yang kamu ambil
sanadnya itu juga meneladani orang yang di
atas di mana dia mengambil sanad
daripadanya dan begitulah seterusnya
hingga berujung kepada kamu meneladani
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dengan demikian, keterjagaan al-Qur’an itu
benar-benar sempurna baik secara lafazh,
makna dan pengamalan


Rabu, 01 Agustus 2012

Hubungan Antara Ilmu dengan Amal


Memadukan Ilmu dan Amal

Ilmu adalah karunia paling berharga yang
diberikan Allah kepada manusia. Kemuliaan
ilmu ini banyak ditegaskan oleh Al-Qur'an
maupaun hadis Rasulullah SAW seperti
hadis yang mewajibkan seluruh umat
Islam, baik laki-laki maupun perempuan,
atau keharusan menuntut ilmu dari sejak
manusia dilahirkan hingga meninggal
dunia ( long life education ).
Sedangkan ilmu tidak dapat dikatakan ilmu
jika ia tidak dihubungkan dengan amal
perbuatan manusia. Rasulullah SAW
mengibaratkan hubungan ilmu dan amal
ini dengan pohon dan buahnya. Jika ilmu
adalah sebatang pohon maka amal adalah
buahnya. Jika ilmu tidak disertai dengan
amal kebajikan maka ilmu tersebut tidak
banyak berguna laksana pohon yang tak
berbuah.
Dalam kitab Ta`limul Muta`allim , Syekh az-
Zarnuji, menerangkan bahwa banyak
sekali umat Islam di masanya yang
mengalami kegagalan dalam menuntut
ilmu. Kegegalan yang dimaksud bukanlah
kegagalan lulus atau tidak lulus dalam
ujian sekolah. Akan tetapi lebih jauh lagi
merupakan kegagalan sebab tidak dapat
menjadikan ilmu yang diperoleh
bermanfaat bagi masyarakat luas. Dengan
kata lain, ilmu yang tidak dapat dipetik
buahnya.
Menurut Syekh Zarnuji, kegagalan ini
disebabkan oleh kekeliruan motivasi
menuntut ilmu (niat), memilih disiplin ilmu,
guru dan teman, kurangnya penghormatan
terhadap guru dan orang yang berilmu,
kemalasan dalam belajar, kurangnya
ibadah dan rendahnya sikap tawakkal
(berserah diri kepada Allah), wara`
(menjauhi makan barang haram), zuhud
(melepaskan ketergantungan terhadap
materi). Sementara seluruh hal di atas
merupakan syarat-syarat dan jalan yang
dibutuhkan oleh setiap pelajar dalam
mencapai ilmu pengetahuan yang diridhai
Allah SWT.
Dari syarat-syarat keberhasilan
mendapatkan ilmu di atas, terlihat jelas
bahwa sebenarnya pendidikan dalam Islam
memberikan perpaduan yang indah antara
ilmu dan amal. Bersendikan pada
kesungguhan dalam mengasah potensi
intelektual dan keikhlasan dalam beramal.
Barangsiapa yang berhasil memenuhi
syarat-syarat dan benar dalam cara
menuntut ilmu niscara mereka akan
tercerahkan hati dan pikirannya. Mereka
akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat
baik bagi dirinya sendiri juga bagi
masyarakt luas serta akan selalu berada di
bawah petunjuk Allah SWT.
Sebaliknya mereka yang meninggalkan
syarat-syarat yang diperlukan dalam
menuntut ilmu dan belajar dengan jalan
yang salah maka sudah dapat dipastikan
mereka akan mengalami kegagalan dalam
memadukan antara ilmu dan amal. Dalam
dunia pendidikan Islam terdapat sebuah
slogan yang sangat populer:
” Man zada ilman wa lam yazdad hudan
lam yazdad minallahi illa bu`dan .” Artinya:
Barangsiapa yang bertambah ilmunya akan
tetapi tidak bertambah petunjuknya maka
ia tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali
semakin jauh dari Allah.

Source nu.co.id